Resume Materi Kuliah TIK Dalam Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Robinson Situmorang
TIK DALAM PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Pemanfaatan
TIK dalam dunia pendidikan sebagai media pembelajaran karena dilatarbelakangi
oleh adanya perubahan paradigma pendidikan. Kondisi global menuntut perubahan
orientasi dan persaingan persyaratan kerja. Hampir di setiap bidang usaha/
instansi baik swasta maupun instansi negeri menuntut adanya komptensi yang
memadai dari setiap karyawan yang bekerja di dalamnya. Seleksi masuk pun
semakin ketat dengan berbagai persyaratan yang ketat pula. Dengan adanya
pergeseran dalam paradigma pendidikan, muncul pula cara baru dalam memandang
pendidikan, yakni bukan hanya sebatas pemahaman singkat terhadap sesuatu,
tetapi lebih merupakan proses penguasaan ilmu pengetahuan yang FUNGSIONAL
berdasarkan kerangka berfikir ilmiah, ditandai dengan perubahan: Standarisasi
kompetensi lulusan(SKL),Kurikulum, Pendekatan pembelajaran dari TCL ke SCL, Strategi
pembelajaran.
Pergeseran paradigma ditandai
dengan perubahan :
·
standarisasi
kompetensi lulusan (SKL)
unjuk kerja apa
yang bisa ia tunjukan setelah lulus
·
kurikulum
disesuaikan
dengan kompetensi kelulusan yang dikehendaki
·
pendekatan
pembelajaran TCL (Teacher Center Learning) ke SCL (Student Center Learning).
·
Strategi
pembelajaran harus dirubah,,
Lulusan
lembaga pendidikan harus dapat menjawab kebutuhan:
·
Masyarakat
·
Dunia Kerja
·
Profesionalisme
·
Generasi Masa Depan
Pendidikan Berbasis TIK
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan
penggunaan Teknologi Informasi dan komunikasi sebagai medium penyampaian pesan
dalam belajar
Pendekatan TIK dalam Pendidikan
Ø Dimulai dari masuknya media pembelajaran
Ø Berkembangnya teknologi AVA
Ø Masuknya teknologi komputer dalam pendidikan memicu
lahirnya ragam penddikan berbasis TIK
a. Standar
Kompetensi Lulus
Pendidikan
harus bisa menghasilkan output yang siap pakai di lapangan atau memiliki
potensi yang maksimal untuk diterapkan di lapangan. Bukan yang setelah keluar
dari jenjang pendidikan malah menambah angka pengangguran di masyarakat.
b. Kurikulum
Kurikulum
yang dirancang hendaknya bisa menjamin output yang dihasilkan bisa tepat
sasaran, artinya sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan dan menjawab
kebutuhan tersebut dengan tepat sasarannya.
c. Pendekatan
pembelajaran TCL-SCL
Adanya
perubahan dalam orientasi pembelajaran. Guru bukan lagi menjadi satu-satunya
pusat dan sumber belajar bagi anak. Tetapi, pembelajaran berpusat kepada anak,
artinya anak harus diberdayakan mencari dan menemukan berbagai alternatif
belajar dari berbagai sumber yang relevan. Anak dilatih unuk melakukan
observasi, menganalisis, memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan
sehari-hari, dll. Tugas guru hanya menjadi motivator dan fasilitator. Guru
harus bisa membuat rancangan yang terstruktur dan terjadwal serta mampu
memanfaatkan waktu yang tersisa dari waktu yang telah terstruktur tersebut
untuk merancang kegiatan yang bisa melaksanakan kegiatan yang menyenangkan bagi
siswa dengan cara mendesain wadah yang menyentuh kompetensi yang hendak
dicapai.
d. Strategi
pembelajaran
Dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran, hendaknya memperhatikan karakteristik dan
kebutuhan anak. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing serta cara dan gaya
belajar yang bervariasi. Karena itu, guru harus jeli melihat perbedaan tiap
anak sehingga dapat memberikan pelayanan belajar secara berbeda kepada
tiap-tiap anak. Hal ini mengacu kepada 9 kecerdasan jamak Gardner.
Oleh
karena itu, strategi pembelajaran harus lebih:
v Menyenangkan,
sebab belajar bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi merupakan pengalaman
dan petualangan yang unik. Jadi, belajar harus menjadi bagian dari
bersenang-senang dalam menciptangan pengalaman yang barubagi siswa dalam
mencapai impian mereka.
v Bermakna,
artinya apa yang dipelajari anak harus dapat menjawab kebutuhan sehari-hari,
memiliki daya guna untuk banyak hal, selalu memberi perubahan terus menerus
setiap saat serta mampu menjanjikan masa depan yang lebih baik.
v Memberdayakan
aneka sumber, antara lain dengan menjadikan lingkungan
sebagai sumber belajar, belajar berbasis teknologi informasi (it), pemberdayaan
nara sumber, menggunakan multi media, dll.
v Berorientasi
pada T.I, artinya memberdyakan kemajuan teknologi, menggunakan IT sebagai
solusi untuk kebutuhan informasi, menjawab perubahan yang bergulir sangat
cepat, dengan demikian dapat menjadikan masa depan lebih baik.
Terdapat 4
prinsip dalam pergeseran paradigma pendidikan:
1)
Keberhasilan institusi dinilai berdasarkan
mutu belajar peserta didik.
2)
Belajar menjadi tanggungjawab bersama.
3)
Institusi harus menjadi pembelajar, sehingga
dari waktu ke waktu yang dihasilkan adalah belajar.
4)
Lingkungan belajar harus diciptakan agar
terjadi proses penemuan dan pembangunan pengetahuan daripada sekedar transfer
ilmu pengetahuan
B. Pendidikan Berbasis
TIK
Suatu
pendekatan dalam pembelajaran yang mengoptimalkan penggunaanteknologi
informasi dan komunikasi sebagai sumber belajar dan sebagai medium penyampaian
pesan dalam pembelajaran.
1. Perkembangan
Pendekatan TIK dalam Pendidikan
Sebelum
manusia mengenal TIK, komunikasi antara manusia sudah dimulai dengan teknik
oral, yakni menggunakan lambang dan bunyi. Manusia berkomunikasi secara
langsung (bertatap muka) dengan orang yang sedang diajak untuk berkomunikasi.
Manusia juga telah menemukan dan menggunakan alat-alat komunikasi yang sangat
sederhana dan masih terbatas pada alat-alat komunikasi yang menghasilkan bunyi
dan isyarat. Misalnya, gendang, terompet, dan tanduk binatang , rambu dari batu
atau isyarat asap, dll. Alat-alat tersebut dibunyikan sebagi tanda agar orang
berkumpul atau memberitahukan adanya suatu bahaya.
Penggunaan
teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan berkembang melalui tiga
tahap, yaitu Pertama, masuknya media dalam pembelajaran pada
akhir tahun 60an, yang dimulai dengan penggunaan media cetak dalam
pembelajaran, seperti pemanfaatan modul, buku pelajaran, dll. Keduapenggunaan audio
visual aid (AVA) pada tahuan 70an. Penggunaan Audio Visual Aid yaitu, alat
bantu berbentuk audio (memanfaatkan pendengaran) dan Visual (memanfaatkan
penglihatan) di kelas untuk menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu juga
agar peserta didik mengembangkan kemampuan berpikirnya. Tahap ketiga,
penggunaan komputer dalam pendidikan di sekolah telah dimulai sejak tahun
1980-an. Pada tahun tersebut juga muncul perkembangan multimedia
yaitu diawali dengan berkembangnya CD-ROM yang berisi music dan data berupa
hiperteks untuk keperluan penyimpanan informasi. Teknologi informasi dan komunikasi
tidak identik dengan komputer, namun juga dengan segala sesuatu yang berupa
software dan hardware yang dapat membantu manusia. TIK dalam pendidikan memicu
lahirnya berbagai model pembelajaran, seperti: e-learning, on line-
learning, Blended learning, mobile learning, dll.
2. TIK
sebagai Sumber dan Media Belajar
a). TIK
sebagai Sumber Belajar
Sebagai
sumber belajar, TIK dapat memberi layanan cepat-murah, menjawab kebutuhan
informasi, menyediakan informasi terbaru/terkini. Dengan TIK, kita dapat meninggalkan
kebiasaan satu sumber belajar, artinya guru bukan lagi menjadi
satu-satunya sumber belajar bagi siswa, tetapi hanya menjadi fasilitator dalam
menyediakan berbagai fasilitas penunjang belajar bagi siswa yang memungkinkan
siswa dapat bereksplorasi dengan lingkungan sekitarnya. Dengan TIK siswa menggunakan
ANEKA sumber belajar, artinya menjadikan TIK sebagai salah satu referensi dalam
belajar sehingga siswa dapat dengan mudah memperoleh berbagai informasi yang
dibutuhkan dalam belajar. Namun, guru harus tetap mengatur efektifitas penggunaan TIK
(internet), artinya siswa disiapkan untuk menggunakan teknologi dengan tepat
dan sesuai kebutuhan. Di sini guru harus tegas memberi batasan kepada siswa
dalam mencari sumber belajar di internet.
b). TIK
sebagai Media Belajar
Dalam
merancang media berbasis TIK, guru harus dapat mengupayakan adanya kedekatan
antara visualisasi antara pesan verbal dan ilustrasi yang digunakan agar lebih
mudah dipahami anak. Ada beberapa prinsip penggunaan media, yaituKesederhanaan, artinya
media yang digunakan tidak perlu mewah tetapi harus didesain secara hati-hati
mengandung makna dari pesan yang hendak disampaikan. Keutuhan, artinya
dalam membelajarkan sesuatu kepada anak harus dimulai dari satu kesatuan yang
utuh baru ke bagian-bagian tertentu, agar pesan yang disampaikan lebih bermakna
atau berarti bagi anak. Keseimbangan,hal ini menjaga agar perhatian anak
tetap fokus pada pesan apa yang mau kita sampaikan, karena ketidakseimbangan
gambar dapat mengalihkan perhatian siswa. Ketegasan, artinya harus ada
teknik dalam memberi penekanan pada bagian tertentu. Misalkan dengan memberi
warna tertentu pada kata-kata tertentu yang merupakan pesan khusus yang mau
disampaikan.
3. Kendala
dalam penggunaan TIK:
a. Kesulitan
dalam Pengembangan Program
b. Infrastruktur
yang belum memadai
c. SDM
yang terbatas (PENGELOLA)
d. Gagap
Teknologi (PESERTA)
e. KULTUR
belajar yang sulit berubah
f. LUASNYA
wilayah jangkauan dan belum
g. meratanya
kualitas penerimaan pesan
C. Model Teaching
AIDS PAUD Berbasis TIK (Off Line)
1. Pengertian
Media
Media
merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untukmenjelaskan dan menyalurkan
pesan atau informasi. Komunikasi seharusnya bersifat Stimulus-Respon. Stimulus apa
yang disampaikan guru mendapat responyang serupa dari siswa. Oleh karena
itu, guru harus menggunakan media untuk mengurangi terjadinya kekaburan makna
pesan. Selain itu juga agar materi mudah dimengerti oleh peserta didik. Kalau
guru hanya menggunakan verbalisasi, maka kemampuan anak mengingat pesan yang
disampaikan adalah 70% pada saat anak menerima pesan tersebut. Tetapi, setelah
3 hari pesan yang tersimpan dalam ingatan anak hanya tersisa 10%. Sedangkan
jika anak menerima pesan secara visual, maka daya ingatnya saat menerima pesan
pesan adalah 72% dan akan tersisa 20% saat 3 hari kemudian. Tetapi ketika pesan
yang disampaikan kepada anak menggunakan media verbal dan visual, daya ingat
anak saat menerima pesan adalah 85% dan hanya berkurang menjadi 65% beberapa
waktu kemudian. Alasan lain pemanfaatan media dalam pembelajaran adalah
menyederhanakan pesan, mengurangi verbalitas, menarik perhatian, menyamakan
persepsi dan menghemat waktu.
2. Klasifikasi
Media
a)
Alat Bantu (Teaching AIDS), yang mencakup:
Lingkungan yang sebenarnya, benda yang sebenarnya, gambar, gambar foto, nara
sumber, taktil, model, dll. Untuk anak usia dini Teaching AIDS adalah sebutan
yang tepat untuk penggunaan media dalam membantu anak belajar.
b)
Media Pembelajaran, yang mencakup: modul,
program Audi, program video, CAI, multi media, dll.
3. Klasifikasi
media Teaching AIDS:
a)
By Utilization, yaitu: lingkungan, benda
sebenarnya, nara sumber, fenomena alam, dll
b)
By Design, yaitu: gambar, gambar foto, slide,
model, taktil, model, benda-benda rekayasa, komponen grafis, dll
4. Efektifitas
media berdasarkan usia, pengtahuan, dan pengalaman belajar
Media
yang digunakan dalam pembelajaran harus di sesuaikan dengan tingakatan usia.
Anak usia dini tidaklah sama dengan orang dewasa. Anak usia dini membutuhkan
banyak kesempatan untuk memanipulasi benda-benda konkret karena usia dini
adalah usia praoperasional konkret. Anak dapat memahami sesuatu apabila
langsung berhadapan dengan objek yang sedang dipelajari.
5. Prinsip
pemanfaatan Teaching AIDS di PAUD
a)
Menyenangkan, artinya media yang kita gunakan
harus bisa menimbulkan rasa senang pada diri anak, sehingga mereka bisa bebas
berekspresi dan bereksplorasi dengan lingkungannya.
b)
Bagian dari bermain, artinya bahwa mengingat
usia dini adalah usia bermain bagi anak maka media yang dibuat harus bisa
dimanipulasi anak sambil bermain.
c)
Bermakna, artinya media yang dibuat harus
mengandung makna dari pesan yang mau disampaikan kepada anak
d)
Melibatkan MI, artinya alat bantu belajar
yang digunakan harus bisa menstimulasi anak ke arah kecerdasan yang dimiliki
anak, bertolak dari teori Multiple Intelegensi Gardner. Mungkin anak dapat
menunjukkan kemapuan di beberapa bidang, tetapi akan ada bakat tertentu yang
menonjol dari sekian banyak kecerdasan yang dimiliki, dan fungsi alat bantu
belajar ini adalah unutk menggali bakat yang masih tersembunyi tersebut.
6. Model
Teaching AIDS dalam PAUD
Guru
harus kreatif dalam mendesain pembelajaran yang menyenangkan,
sehinggabelajar menjadi bagian dari bermain dengan mengoptimalkan
“teaching aids” by utilization dan by design yang dirancang
dengan baik, namun bersifat fleksibel. Upaya kreatif guru mengintegrasikan
Teaching AIDS dengan cara-cara yang menyenangkan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran PAUD.
Teaching AIDS mengacu pada kecerdasan jamak Gardner (linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani,
musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensialis).Materi
sesuai budaya anak, seperti yang dikatakan Piaget, yaitu memberi
anak kesempatan terlibat secara mental dan fisik, penting bagi
perkembangan mental anak. Model ini juga memberi kebebasan kepada anak untuk belajar
atas inisiatifsendiri. Ketertarikan anak akan sesuatu merupakan awal
belajar bagi anak. Belajar tidak harus selalu berlangsung formal,
tetapi dapat berlangsung kapan saja dengan memfasilitasi anak untuk berkembang
sesuai dengan minat dan ketertarikannya, namun tetap kebebasan belajarnya terkontrol.
Salah
satu yang paling penting juga dalam Teaching AIDS adalah permainan.Apapun
yang disentuh anak dapat dijadikan momentum awal belajar anak, permainan
yang berkualitas yang mampu memicu emosi dan mengaktifkan semua motorik
anak. Namun, harus tetap diingat permainan harus bebas resiko bagi anak.
D. Distance Education
(On-Line)
Distance
Education merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbasis TIK on-line (Computer
Based Learning on line) yang terintegrasi dari beberapa bentuk
pembelajaran on-line seperti online learning, e-learning dan distance learning.
Computer Based Instruction (CBI) on-line dibagi ke dalam dua bentuk, yakni by
Utilization dan by Desaign.
1. By
Utilization
Yaitu
Pembelajaran Berbasis Situs Website (Web Based Learning) dengan memanfaatkan
internet sebagai sumber belajar/informasi. Contohnya adalah online
learning.
Di
dalam online learning kegiatan yang dilakukan adalah (a) melengkapi tugas
terstruktur dengan menggunakan LKS, artinya siswa melakukan kegiatan belajar
berdasarkan langkah-langkah yang ada dalam LKS yang telah disiapkan guru; (b) pengayaan
materi; (c) referensi penunjang, dalam hal ini siswa tidak hanya dituntut
memiliki referensi berupa buku cetak tetapi memanfaatkan situs internet untuk
dijadikan referensi dalam belajar.
a. Keuntungan
pemanfaatan
Keuntungan
pemanfaatan sistem online learning ini adalah (a) dapat mengatasi keterbatasan
sumber belajar; (b) memiliki jangkauan luas; (c) memberikan pelayanan yang
cepat dan efisien
b. Implikasi
pemanfaatan WBL
Adapun
implikasi pemanfaatan WBL ini adalah: (a) perbaikan infrastruktur lembaga
pengguna (sarana-prasarana dan SDM); (b) sosialisasi dan pembimbingan yang
intensif ke semua siswa.
2. By
Design
Terbagi
atas dua yaitu pemanfaatan teknologi elektronik sebagai media pembelajaran,
contohnya adalah e-learning dan pemanfaatan teknologi elektronik
dan jaringan sebagai media pembelajaran, contohnya Distance
Education.
a. E-learning
Merupakan
bagian integral dari materi pembelajaran, adanya kegiatan pengayaan materi,
melengkapi program pembelajaran dengan video selain modul yang disiapkan, serta
menggunakan LKS sebagai petunjuk dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
1) Keuntungan
pemanfaatan
Keuntungan
pemanfaatan sistem online learning ini adalah (a) dapat mengatasi keterbatasan
SDM; (b) meningkatkan efisiensi; (c) pembelajaran lebih variatif dan inovatif
2) Implikasi
pemanfaatan E- learning
Adapun
implikasi pemanfaatan e-learning ini adalah: (a) pengembangan sistem
pembelajaran ke e-learning); (b) tersedianya sistem jaringan yang memadai; (c)
peningkatan kualitas SDM
b. Distance
Education
1) Penerapannya
dengan menggunakan panduan belajar (student Guide) bagi sekolah terbuka, baik
jenjang SMP terbuka maupun Universitas Terbuka (UT). Di UT, modul-modul cetak
akan diconvert ke dalam bentuk modul elektronik, seperti:
v Audio
conferencing
v Video
conferencing
v Internet:
v synchronous
v asynchronous
2) Kendala
penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Jarak Jauh:
v Kesulitan
dalam Pengembangan Program
v Infrastruktur
yang belum memadai
v SDM
yang terbatas (PENGELOLA)
v Gagap
Teknologi (PESERTA)
v KULTUR
belajar yang sulit berubah
v LUASNYA
wilayah jangkauan dan belum
v meratanya
kualitas penerimaan pesan
E. Penelitian Berbasis TIK
dalam PAUD
Untuk
penelitian berbasis TIK dalam PAUD dapat dilakukan dengan meneliti pemanfaatan
teknologi elektronik dan jaringan sebagai sistem pembelajaran (by design),
misalnya pada Pendidikan jarak jauh untuk universitas
terbuka PAUD (untuk guru-guru PAUD).
Adapun
hal-hal yang diteliti misalnya tentang keunggulan pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran Jarak Jauh, seperti:
v Kelas
tidak membutuhkan bentuk fisik
v Program
dapat di-update secara cepat
v Interaksi
dapat bersifat real time
v Mengakomodasi
seluruh proses belajar
v Dapat
diakses dari lokasi mana saja
v Materi
dirancang secara multimedia
v Peserta
belajar terhubung keseluruh perputakaan dunia.
Selain
itu juga tentang kendala pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, misalnya:
v Buruknya
perencanaan penggunaan sehingga tidak sesuai kebutuhan
v Pengguna
tidak mengenal secara baik sistem yang digunakan
v Permasalahan
bandwidth yang kecil
Beberapa
hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan TIK dalam pembelajaran
adalah:
v Kualitas
siswa jauh lebih baik dibanding kelas kovensional
v Siswa
antusias mengikuti dan menyelesaikan keseluruhan proses
v Adanya
tingkat kepuasan pada siswa
v Siswa
dpt menyelesaikan seluruh fungsi sistem dengan baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar