Jumat, 08 Februari 2013

Resume Mata Kuliah TIK


Resume Materi Kuliah TIK Dalam Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Robinson Situmorang

TIK DALAM PENDIDIKAN

A.   Pendahuluan

Pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan sebagai media pembelajaran karena dilatarbelakangi oleh adanya perubahan paradigma pendidikan. Kondisi global menuntut perubahan orientasi dan persaingan persyaratan kerja. Hampir di setiap bidang usaha/ instansi baik swasta maupun instansi negeri menuntut adanya komptensi yang memadai dari setiap karyawan yang bekerja di dalamnya. Seleksi masuk pun semakin ketat dengan berbagai persyaratan yang ketat pula. Dengan adanya pergeseran dalam paradigma pendidikan, muncul pula cara baru dalam memandang pendidikan, yakni bukan hanya sebatas pemahaman singkat terhadap sesuatu, tetapi lebih merupakan proses penguasaan ilmu pengetahuan yang FUNGSIONAL berdasarkan kerangka berfikir ilmiah, ditandai dengan perubahan: Standarisasi kompetensi lulusan(SKL),Kurikulum, Pendekatan pembelajaran dari TCL ke SCL, Strategi pembelajaran.

Pergeseran paradigma ditandai dengan perubahan :
·         standarisasi kompetensi lulusan (SKL)
unjuk kerja apa yang bisa ia tunjukan setelah lulus
·         kurikulum
disesuaikan dengan kompetensi kelulusan yang dikehendaki
·         pendekatan pembelajaran TCL (Teacher Center Learning) ke SCL (Student Center Learning).
·         Strategi pembelajaran harus dirubah,,
Lulusan lembaga pendidikan harus dapat menjawab kebutuhan:
·         Masyarakat
·         Dunia Kerja
·         Profesionalisme
·         Generasi  Masa Depan

Pendidikan Berbasis TIK
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan penggunaan Teknologi Informasi dan komunikasi sebagai medium penyampaian pesan dalam belajar

Pendekatan TIK dalam Pendidikan
Ø  Dimulai dari masuknya media pembelajaran
Ø  Berkembangnya teknologi AVA
Ø  Masuknya teknologi komputer dalam pendidikan memicu lahirnya ragam penddikan berbasis TIK

a.  Standar Kompetensi Lulus
Pendidikan harus bisa menghasilkan output yang siap pakai di lapangan atau memiliki potensi yang maksimal untuk diterapkan di lapangan. Bukan yang setelah keluar dari jenjang pendidikan malah menambah angka pengangguran di masyarakat.
b.  Kurikulum
Kurikulum yang dirancang hendaknya bisa menjamin output yang dihasilkan bisa tepat sasaran, artinya sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan dan menjawab kebutuhan tersebut dengan tepat sasarannya.
c.   Pendekatan pembelajaran TCL-SCL
Adanya perubahan dalam orientasi pembelajaran. Guru bukan lagi menjadi satu-satunya pusat dan sumber belajar bagi anak. Tetapi, pembelajaran berpusat kepada anak, artinya anak harus diberdayakan mencari dan menemukan berbagai alternatif belajar dari berbagai sumber yang relevan. Anak dilatih unuk melakukan observasi, menganalisis, memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari, dll. Tugas guru hanya menjadi motivator dan fasilitator.  Guru harus bisa membuat rancangan yang terstruktur dan terjadwal serta mampu memanfaatkan waktu yang tersisa dari waktu yang telah terstruktur tersebut untuk merancang kegiatan yang bisa melaksanakan kegiatan yang menyenangkan bagi siswa dengan cara mendesain wadah yang menyentuh kompetensi yang hendak dicapai.
d.  Strategi pembelajaran
Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, hendaknya memperhatikan karakteristik dan kebutuhan anak. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing serta cara dan gaya belajar yang bervariasi. Karena itu, guru harus jeli melihat perbedaan tiap anak sehingga dapat memberikan pelayanan belajar secara berbeda kepada tiap-tiap anak. Hal ini mengacu kepada 9 kecerdasan jamak Gardner.
Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus lebih:
v  Menyenangkan, sebab belajar bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi merupakan pengalaman dan petualangan yang unik. Jadi, belajar harus menjadi bagian dari bersenang-senang dalam menciptangan pengalaman yang barubagi siswa dalam mencapai impian mereka.
v  Bermakna, artinya apa yang dipelajari anak harus dapat menjawab kebutuhan sehari-hari, memiliki daya guna untuk banyak hal, selalu memberi perubahan terus menerus setiap saat serta mampu menjanjikan masa depan yang lebih baik.
v  Memberdayakan aneka sumber, antara lain dengan menjadikan    lingkungan sebagai sumber belajar, belajar berbasis teknologi informasi (it), pemberdayaan nara sumber, menggunakan multi media, dll.
v  Berorientasi pada T.I, artinya memberdyakan kemajuan teknologi, menggunakan IT sebagai solusi untuk  kebutuhan informasi, menjawab perubahan yang bergulir sangat cepat, dengan demikian dapat menjadikan masa depan  lebih baik.
Terdapat 4 prinsip dalam pergeseran paradigma pendidikan:
1)    Keberhasilan institusi dinilai berdasarkan mutu belajar peserta didik.
2)    Belajar menjadi tanggungjawab bersama.

3)    Institusi harus menjadi pembelajar, sehingga dari waktu ke waktu yang dihasilkan adalah belajar.
4)    Lingkungan belajar harus diciptakan agar terjadi proses penemuan dan pembangunan pengetahuan daripada sekedar  transfer ilmu pengetahuan

B.   Pendidikan Berbasis TIK

Suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mengoptimalkan penggunaanteknologi informasi dan komunikasi sebagai sumber belajar dan sebagai medium penyampaian pesan dalam pembelajaran.

1.    Perkembangan Pendekatan TIK dalam Pendidikan
Sebelum manusia mengenal TIK, komunikasi antara manusia sudah dimulai dengan teknik oral, yakni menggunakan lambang dan bunyi. Manusia berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) dengan orang yang sedang diajak untuk berkomunikasi. Manusia juga telah menemukan dan menggunakan alat-alat komunikasi yang sangat sederhana dan masih terbatas pada alat-alat komunikasi yang menghasilkan bunyi dan isyarat. Misalnya, gendang, terompet, dan tanduk binatang , rambu dari batu atau isyarat asap, dll. Alat-alat tersebut dibunyikan sebagi tanda agar orang berkumpul atau memberitahukan adanya suatu bahaya.
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan berkembang melalui tiga tahap, yaitu Pertama, masuknya media dalam pembelajaran pada akhir tahun 60an, yang dimulai dengan penggunaan media cetak dalam pembelajaran, seperti pemanfaatan modul, buku pelajaran, dll. Keduapenggunaan audio visual aid (AVA) pada tahuan 70an. Penggunaan Audio Visual Aid yaitu, alat bantu berbentuk audio (memanfaatkan pendengaran) dan Visual (memanfaatkan penglihatan) di kelas untuk menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu juga agar peserta didik mengembangkan kemampuan berpikirnya. Tahap ketiga, penggunaan komputer dalam pendidikan di sekolah telah dimulai sejak tahun 1980-an. Pada tahun tersebut juga  muncul perkembangan multimedia yaitu diawali dengan berkembangnya CD-ROM yang berisi music dan data berupa hiperteks untuk keperluan penyimpanan informasi. Teknologi informasi dan komunikasi tidak identik dengan komputer, namun juga dengan segala sesuatu yang berupa software dan hardware yang dapat membantu manusia. TIK dalam pendidikan memicu lahirnya berbagai model pembelajaran, seperti: e-learning, on line- learning, Blended learning, mobile learning, dll.

2.    TIK sebagai Sumber dan Media Belajar
a).    TIK sebagai Sumber Belajar
Sebagai sumber belajar, TIK dapat memberi layanan cepat-murah, menjawab kebutuhan informasi, menyediakan informasi terbaru/terkini. Dengan TIK, kita dapat meninggalkan kebiasaan satu sumber belajar, artinya guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, tetapi hanya menjadi fasilitator dalam menyediakan berbagai fasilitas penunjang belajar bagi siswa yang memungkinkan siswa dapat bereksplorasi dengan lingkungan sekitarnya. Dengan TIK siswa  menggunakan ANEKA sumber belajar, artinya menjadikan TIK sebagai salah satu referensi dalam belajar sehingga siswa dapat dengan mudah memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan dalam belajar. Namun, guru harus tetap mengatur efektifitas penggunaan TIK (internet), artinya siswa disiapkan untuk menggunakan teknologi dengan tepat dan sesuai kebutuhan. Di sini guru harus tegas memberi batasan kepada siswa dalam mencari sumber belajar di internet.
b).    TIK sebagai Media Belajar
Dalam merancang media berbasis TIK, guru harus dapat mengupayakan adanya kedekatan antara visualisasi antara pesan verbal dan ilustrasi yang digunakan agar lebih mudah dipahami anak. Ada beberapa prinsip penggunaan media, yaituKesederhanaan, artinya media yang digunakan tidak perlu mewah tetapi harus didesain secara hati-hati mengandung makna dari pesan yang hendak disampaikan. Keutuhan, artinya dalam membelajarkan sesuatu kepada anak harus dimulai dari satu kesatuan yang utuh baru ke bagian-bagian tertentu, agar pesan yang disampaikan lebih bermakna atau berarti bagi anak. Keseimbangan,hal ini menjaga agar perhatian anak tetap fokus pada pesan apa yang mau kita sampaikan, karena ketidakseimbangan gambar dapat mengalihkan perhatian siswa. Ketegasan, artinya harus ada teknik dalam memberi penekanan pada bagian tertentu. Misalkan dengan memberi warna tertentu pada kata-kata tertentu yang merupakan pesan khusus yang mau disampaikan.
3.    Kendala dalam penggunaan TIK:
a.   Kesulitan dalam Pengembangan Program
b.   Infrastruktur yang belum memadai
c.   SDM yang terbatas (PENGELOLA)
d.   Gagap Teknologi (PESERTA)
e.   KULTUR belajar yang sulit berubah
f.    LUASNYA wilayah jangkauan dan belum
g.   meratanya kualitas penerimaan pesan

C.   Model Teaching AIDS PAUD Berbasis TIK (Off Line)
1.    Pengertian Media
Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untukmenjelaskan dan menyalurkan pesan atau informasi. Komunikasi seharusnya bersifat Stimulus-Respon. Stimulus apa yang disampaikan guru mendapat responyang serupa dari siswa. Oleh karena itu, guru harus menggunakan media untuk mengurangi terjadinya kekaburan makna pesan. Selain itu juga agar materi mudah dimengerti oleh peserta didik. Kalau guru hanya menggunakan verbalisasi, maka kemampuan anak mengingat pesan yang disampaikan adalah 70% pada saat anak menerima pesan tersebut. Tetapi, setelah 3 hari pesan yang tersimpan dalam ingatan anak hanya tersisa 10%. Sedangkan jika anak menerima pesan secara visual, maka daya ingatnya saat menerima pesan pesan adalah 72% dan akan tersisa 20% saat 3 hari kemudian. Tetapi ketika pesan yang disampaikan kepada anak menggunakan media verbal dan visual, daya ingat anak saat menerima pesan adalah 85% dan hanya berkurang menjadi 65% beberapa waktu kemudian. Alasan lain pemanfaatan media dalam pembelajaran adalah menyederhanakan pesan, mengurangi verbalitas, menarik perhatian, menyamakan persepsi dan menghemat waktu.
2.    Klasifikasi Media
a)    Alat Bantu (Teaching AIDS), yang mencakup: Lingkungan yang sebenarnya, benda yang sebenarnya, gambar, gambar foto, nara sumber, taktil, model, dll. Untuk anak usia dini Teaching AIDS adalah sebutan yang tepat untuk penggunaan media dalam membantu anak belajar.
b)    Media Pembelajaran, yang mencakup: modul, program Audi, program video, CAI, multi media, dll.
3.    Klasifikasi media Teaching AIDS:
a)    By Utilization, yaitu: lingkungan, benda sebenarnya, nara sumber, fenomena alam, dll
b)    By Design, yaitu: gambar, gambar foto, slide, model, taktil, model, benda-benda rekayasa, komponen grafis, dll
4.    Efektifitas media berdasarkan usia, pengtahuan, dan pengalaman belajar
Media yang digunakan dalam pembelajaran harus di sesuaikan dengan tingakatan usia. Anak usia dini tidaklah sama dengan orang dewasa. Anak usia dini membutuhkan banyak kesempatan untuk memanipulasi benda-benda konkret karena usia dini adalah usia praoperasional konkret. Anak dapat memahami sesuatu apabila langsung berhadapan dengan objek yang sedang dipelajari.
5.    Prinsip pemanfaatan Teaching AIDS di PAUD
a)    Menyenangkan, artinya media yang kita gunakan harus bisa menimbulkan rasa senang pada diri anak, sehingga mereka bisa bebas berekspresi dan bereksplorasi dengan lingkungannya.
b)    Bagian dari bermain, artinya bahwa mengingat usia dini adalah usia bermain bagi anak maka media yang dibuat harus bisa dimanipulasi anak sambil bermain.
c)    Bermakna, artinya media yang dibuat harus mengandung makna dari pesan yang mau disampaikan kepada anak
d)    Melibatkan MI, artinya alat bantu belajar yang digunakan harus bisa menstimulasi anak ke arah kecerdasan yang dimiliki anak, bertolak dari teori Multiple Intelegensi Gardner. Mungkin anak dapat menunjukkan kemapuan di beberapa bidang, tetapi akan ada bakat tertentu yang menonjol dari sekian banyak kecerdasan yang dimiliki, dan fungsi alat bantu belajar ini adalah unutk menggali bakat yang masih tersembunyi tersebut.
6.    Model Teaching AIDS dalam PAUD
Guru harus kreatif dalam mendesain  pembelajaran  yang menyenangkan, sehinggabelajar menjadi bagian dari bermain dengan mengoptimalkan “teaching aids” by utilization dan by design yang dirancang dengan baik, namun bersifat fleksibel. Upaya kreatif  guru mengintegrasikan Teaching AIDS dengan cara-cara yang menyenangkan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran PAUD. Teaching AIDS mengacu pada kecerdasan jamak Gardner (linguistik,  matematis-logis,  spasial,  kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensialis).Materi sesuai budaya anak, seperti yang dikatakan Piaget, yaitu memberi anak kesempatan terlibat  secara mental dan fisik, penting bagi perkembangan mental anak. Model ini juga memberi kebebasan kepada anak untuk belajar atas inisiatifsendiri.  Ketertarikan anak akan sesuatu merupakan awal belajar bagi anak. Belajar tidak harus selalu berlangsung formal, tetapi dapat berlangsung kapan saja dengan memfasilitasi anak untuk berkembang sesuai  dengan minat dan ketertarikannya, namun tetap kebebasan belajarnya terkontrol.
Salah satu yang paling penting juga dalam Teaching AIDS adalah permainan.Apapun yang disentuh anak dapat dijadikan momentum awal belajar anak, permainan yang berkualitas yang mampu memicu emosi dan mengaktifkan semua motorik anak. Namun, harus tetap diingat permainan harus bebas resiko bagi anak.

D.   Distance Education (On-Line)
Distance Education merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbasis TIK on-line (Computer Based Learning on line) yang terintegrasi dari beberapa bentuk pembelajaran on-line seperti online learning, e-learning dan distance learning. Computer Based Instruction (CBI) on-line dibagi ke dalam dua bentuk, yakni by Utilization dan by Desaign.
1.    By Utilization
Yaitu Pembelajaran Berbasis Situs Website (Web Based Learning) dengan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar/informasi. Contohnya adalah online learning.
Di dalam online learning kegiatan yang dilakukan adalah (a) melengkapi tugas terstruktur dengan menggunakan LKS, artinya siswa melakukan kegiatan belajar berdasarkan langkah-langkah yang ada dalam LKS yang telah disiapkan guru; (b) pengayaan materi; (c) referensi penunjang, dalam hal ini siswa tidak hanya dituntut memiliki referensi berupa buku cetak tetapi memanfaatkan situs internet untuk dijadikan referensi dalam belajar.
a.    Keuntungan pemanfaatan
Keuntungan pemanfaatan sistem online learning ini adalah (a) dapat mengatasi keterbatasan sumber belajar; (b) memiliki jangkauan luas; (c) memberikan pelayanan yang cepat dan efisien
b.    Implikasi pemanfaatan WBL
Adapun implikasi pemanfaatan WBL ini adalah: (a) perbaikan infrastruktur lembaga pengguna (sarana-prasarana dan SDM); (b) sosialisasi dan pembimbingan yang intensif ke semua siswa.
2.    By Design
Terbagi atas dua yaitu pemanfaatan teknologi elektronik sebagai media pembelajaran, contohnya adalah e-learning dan pemanfaatan teknologi elektronik dan jaringan sebagai media pembelajaran, contohnya  Distance Education.
a.    E-learning
Merupakan bagian integral dari materi pembelajaran, adanya kegiatan pengayaan materi, melengkapi program pembelajaran dengan video selain modul yang disiapkan, serta menggunakan LKS sebagai petunjuk dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
1)    Keuntungan pemanfaatan
Keuntungan pemanfaatan sistem online learning ini adalah (a) dapat mengatasi keterbatasan SDM; (b) meningkatkan efisiensi; (c) pembelajaran lebih variatif dan inovatif
2)    Implikasi pemanfaatan E- learning
Adapun implikasi pemanfaatan e-learning ini adalah: (a) pengembangan sistem pembelajaran ke e-learning); (b) tersedianya sistem jaringan yang memadai; (c) peningkatan kualitas SDM
b.    Distance Education
1)    Penerapannya dengan menggunakan panduan belajar (student Guide) bagi sekolah terbuka, baik jenjang SMP terbuka maupun Universitas Terbuka (UT). Di UT, modul-modul cetak akan diconvert ke dalam bentuk modul elektronik, seperti:
v  Audio conferencing
v  Video conferencing
v  Internet:
v  synchronous
v  asynchronous
2)    Kendala penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Jarak Jauh:
v Kesulitan dalam Pengembangan Program
v Infrastruktur yang belum memadai
v SDM yang terbatas (PENGELOLA)
v Gagap Teknologi (PESERTA)
v KULTUR belajar yang sulit berubah
v LUASNYA wilayah jangkauan dan belum
v meratanya kualitas penerimaan pesan

 E.   Penelitian Berbasis TIK dalam PAUD
Untuk penelitian berbasis TIK dalam PAUD dapat dilakukan dengan meneliti pemanfaatan teknologi elektronik dan jaringan sebagai sistem pembelajaran (by design), misalnya pada Pendidikan jarak jauh untuk   universitas terbuka PAUD (untuk guru-guru PAUD).
Adapun hal-hal yang diteliti misalnya tentang keunggulan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran Jarak Jauh, seperti:
v  Kelas tidak membutuhkan bentuk fisik
v  Program dapat di-update secara cepat
v  Interaksi dapat bersifat real time
v  Mengakomodasi seluruh proses belajar
v  Dapat diakses dari lokasi mana saja
v  Materi dirancang secara multimedia
v  Peserta belajar terhubung keseluruh perputakaan dunia.
Selain itu juga tentang kendala pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, misalnya:
v  Buruknya perencanaan penggunaan sehingga tidak sesuai kebutuhan
v  Pengguna tidak mengenal secara baik sistem yang digunakan
v  Permasalahan bandwidth yang kecil
Beberapa hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan TIK dalam pembelajaran adalah:
v  Kualitas siswa jauh lebih baik dibanding kelas kovensional
v  Siswa antusias mengikuti dan menyelesaikan keseluruhan proses
v  Adanya tingkat kepuasan pada siswa
v  Siswa dpt menyelesaikan seluruh fungsi sistem dengan baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar